Showing posts with label menyayat hati. Show all posts
Showing posts with label menyayat hati. Show all posts

Monday, January 20, 2014

thumbnail

Kisah Menyayat Hati Berlian Yang Dilupakan++Sediakan Tisu

Posted by Unknown  | No comments

berlian Berlian Yang Dilupakan (Kisah Menyayat Hati)

Kisah Menyayat Hati Berlian Yang Dilupakan++Sediakan Tisu |Alkisah, diceritakan bahwa seorang lelaki yang sangat miskin sekali sampai-sampai untuk memberi makan malam dirinya saja ia tidak mampu, padahal ia masih punya tanggungan anak dan istri yang harus diberi makan.
– Sedang mengais mencari sisa-sisa makanan yang mungkin tercicir di jalan…
Secara tidak sengaja, pandangannya tertuju kepada sesuatu di sudut jalan yang ia pun tidak mengetahui apa sebenarnya sesuatu tersebut. Setelah ia mendekat, lalu mengambil sesuatu tersebut dengan tangannya, betapa terkejutnya ia bahwa yang ada di tanganya sekarang adalah berlian yang begitu indah.
Dari setiap sikunya memancarkan cahaya. Setiap orang yang melihatnya pasti akan terpesona akan keindahan berlian tersebut. Tanpa ragu dan dengan penuh rasa gembira, ia mengambil langkah seribu menuju kedai perhiasan untuk menjual berlian tersebut, dengan harapan hasilnya dapat ia gunakan untuk memenuhi keperluan sehari-hari hidupnya dan keluarganya.
Hal-hal indah terbayang sepanjang perjalananya. Harapan harapan besar tersirat dalam hatinya. Sebentar lagi ia akan membeli kemewahan tanpa peluh dengan berlian yang ada di tanganya. Seakan berjalan di atas awan, tak terasa langkah kakinya telah sampai di depan kedai perhiasan yang ia tuju. Dengan sejuta impian ia memasuki kedai perhiasan tersebut.
“Maaf cik, bolehkah saya menjual berlian ini di sini?” tanyanya kepada si penjaga kedai. “Biar saya lihat sebentar,” jawab penjaga kedai.
Setelah memperhatikan dengan penuh ketelitian penjaga kedai berkata dengan nada terkejut, “subhanallah…!!! Ini sungguh berlian yang sangat tinggi harganya, kalau seandainya aku berikan seluruh isi kedaiku kepadamu, niscaya tidak dapat menggantikan nilai berlian ini. Lebih baik engkau pergi ke kedai lain yang lebih besar dari pada kedai saya yang tidak jauh dari sini, barang kali dia boleh memberikan harga yang setara dengan berlian ini”, kata si penjaga kedai.
Dengan sedikit rasa kecewa ia meninggalkan kedai tersebut. Tapi rasa putus asa tidak sedikitpun terbesit di hati kecilnya. Karena dalam fikirannya, mungkin penjaga kedai itu tidak mahu menerima berliannya kerana takut membuat ia kecewa, di sebabkan nilai yang diberikan tidak sebanding dengan berlian yang ia miliki.
Perjalanan menggapai impian pun berlanjut hingga akhirnya ia sampai di kedai ke dua. Lalu ia masuk kedalam kedai tersebut dan melontarkan pertanyaan yang sama seperti di toko sebelumnya.
“Cik, bolehkah saya menjual berlian ini di sini?”, tanyanya kepada si penjaga kedai yang kebetulan juga lelaki.
Lalu penjaga kedai tersebut mengambil berlian itu dari tanganya.
Setelah penjaga kedai memperhatikan berlian yang ia bawa penjaga kedai tersebut juga terkejut, “masya Allah, dimana kamu menemukan berlian ini?”, tanya penjaga kedai dengan ekspresi yang sama dengan penjaga kedai pertama. “Di jalan”, jawabnya ringan.
“Wah.., kalau seandainya seluruh isi kedai ini dan bahkan dua kali gandanya saya berikan kepadamu niscaya tidak dapat menggantikan nilai berlian ini. Lebih baik engkau pergi ke kedai perhiasan di hujung jalan sana, itu adalah kedai perhiasan terbesar di kota ini, mungkin dia boleh memberimu harga yang setara untuk berlian seindah ini,” kata penjaga toko kedua seraya memberi nasihat.
Untuk kedua kalinya perasaannya hancur. Benar-benar tidak semudah yang ia bayangkan. Demi menjual satu berlian saja ia harus berkeliling-keliling kedai perhiasan. Lelah dan letih sudah bercampur aduk dengan angan.
Tapi meski demikian harapan dan impianya tidak putus di tengah jalan. Untuk kesekian kalinya ia gantungkan cita-cita kebahagianya di kedai yang ke tiga. Dengan doa terucap, semoga di kedai yang ke tiga ini berliannya dapat terjual.
Sesampainya di kedai ketiga….
“Assalamua’alaikum tuan, bolehkah saya menjual berlian ini di sini?” dengan penuh harap ia lontarkan pertanyaan tersebut diringi runtutan doa di hati.
Tapi apa yang terjadi?
Setelah ia lelah berjalan, tidak satu kedai pun yang mahu menerima berlian yang ada di tanganya. Jawapan yang ia dapat di kedai ketiga tidak jauh berbeda dengan jawapan di dua kedai sebelumnya. Bahkan kata penjaga kedai ketiga, jikalau seandainya seluruh isi kedai diberikan kepadanya di tambah tiga kali gandanya lagi tetap tidak boleh menggantikan harga berlian yang ada padanya.
Lengkap sudah penderitaanya. Berjalan tanpa alas kaki dari satu kedai ke kedai lain. Di tambah suara perut yang kelaparan ditemani dengan hausnya kerongkongan, membuatnya semakin putus asa. Ia hanya bertanya-tanya dalam hatinya, mengapa tidak ada satu kedai pun yang mahu menerima berliannya ini. Hilang sudah prasangka baik yang ada dalam hatinya. Yang ada hanya tanda tanya yang berkumul tak teratur dalam otaknya.
Lalu dari kedai ke tiga ia dianjurkan untuk datang kepada raja, mungkin raja boleh menggantikan harga berlian yang ia temukan dijalan dengan harga yang setara. Untuk terakhir kalinya ia gantungkan impiannya kepada sang raja. Dengan harapan semoga raja boleh memberikan kepadanya harga yang setara dengan berlian yang ia bawa.
Langkahnya menuju kekerajaan, tidak selincah ketika ia berjalan ke kedai pertama. Harapan yang menjadi citanya tidak sebesar angannya ketika pertama kali ia menemukan berlian tersebut. Hingga akhirnya langkahnya pun sampai di gerbang kerajaan.
Di depan gerbang kerajaan, telah berdiri dua orang pejaga gerbang yang berbadan besar. Dengan santun ia utarakan maksud dan tujuanya datang kekerajaan. Sesudah mengetahui maksud dan tujuannya, dua orang penjaga gerbang kerajaan itupun mengizinkannya masuk menemui raja.
Setelah lama ia menunggu, akhirnya sang raja pun keluar dari kamarnya yang mewah.
Dengan tutur kata yang diatur sedemikian indah, ia utarakan maksud dan tujuannya menemui paduka raja. Ia ceritakan kisah perjalananya secara singkat hingga akhirnya sampai ke kerajaan yang begitu megah.
Selesai ia bercerita, dari dalam sakunya ia tunjukkan berlian yang ia bawa ke pada paduka raja.Lalu raja mengambil berlian tersebut dengan tanganya.
Cukup lama raja memerhatikan berlian tersebut hingga akhirnya berkata, “wahai pemuda, berlian ini sungguh tidak ternilai harganya, jikalau seluruh isi kerajaan ini ku berikan kepadamu niscaya tetap tidak akan boleh menggantikannya, dimana engkau menemukan berlian ini?”, seraya menyambung perkataanya dengan pertanyaan.
“Di jalan tuanku”, jawabnya tunduk kepada raja.
“Di jalan?”, tanya raja balik dengan nada sedikit terkejut.
“Betul tuanku”, jawabnya lagi.
Lalu raja meneruskan pembicaraanya, “sungguh engkau orang yang beruntung wahai pemuda. Begini saja, bagaimana kalau sebagai gantinya akan ku berikan kepadamu kunci gudang hartaku, dan kamu ku beri waktu selama sepuluh jam untuk mengambil apa saja yang kamu sukai dan sebanyak yang kau mau dari hartaku sebagai ganti dari berlian ini?”
“sungguh tuanku?”, tanyanya balik
“Iya, sungguh, kalau engkau mahu, sekarang juga pembantuku boleh mengantar mu ke gudang hartaku yang berada tepat di belakang kerajaan ini”, jawab raja memastikan keraguan lelaki miskin tersebut.
Betapa bahagianya ia sekarang, seakan menemukan kembali lilin kehidupanya yang hampir padam untuk selamanya. Angannya kembali berkelana menelusuri setiap inci impian-impian indah yang ia miliki. Semangatnya kembali bangkit tegak bak gunung batu di dataran Yaman yang selalu di terpa badai. Prasangka buruk atas berlian itu hilang dalam sekejap.
Dengan dihantar oleh pembantu raja, ia melangkah menuju gudang tempat harta benda sang raja di simpan. Tanpa terlewatkan oleh pandangan matanya, setiap sudut kerajaan ia lalui dengan rasa kagum. Sungguh ia terheran-heran dengan kemewahan yang ada di dalam kerajaan. Bagaikan orang yang baru terjaga dari mimpi indah, tanpa terasa di hadapanya sudah berdiri angkuh pintu gudang harta sang raja. Pintu yang begitu megah menggambarkan kemewahan ruangan di balik pintu tersebut. Perlahan pintu gudang di buka.
“Krek..!! hawa sejuk bersanding dengan aroma wangian menghempas tubuhnya dengan lembut seketika pintu gudang terbuka. Perlahan ia melangkah masuk. Dan lebih takjub lagi ia setelah benar-benar berada di dalam. Sungguh pemandangan yang belum sama sekali pernah ia lihat. Emas, intan, berlian, semuanya tersusun rapi. Cawan air terbuat dari kristal seakan duduk manis di hadapannya, menunggu anggur segar akan dituangkan di dalamnya. Berbagai macam jenis makanan dan buah-buahan dengan aroma yang sangat menggoda, sudah terhidang di hadapannya.
Tapi sayangnya, mungkin karena terlalu lama ia hidup dalam kemiskinan sehingga ia tidak tahu bagaimana bergaul dengan kemewahan Terlalu lama ia menyelami kelalaian tanpa kerja keras, sehingga ia tidak tahu bagaimana menyikapi kesempatan.
Dalam ketakjubanya yang bodoh terbesit dalam fikirannya, untuk membagi waktunya yang sepuluh jam. Satu jam ia gunakan untuk mengecapi segala hidangan yang ada dan menikmati nikmatnya kehidupan kerajaan. Dan sisanya sembilan jam ia gunakan untuk mengambil seluruh harta raja yang ia inginkan. Karena dalam pikiranya Sembilan jam sudah lebih dari cukup untuk mengambil harta raja yang ia inginkan.
Detik demi detik waktu pun berjalan. Ia mengecapi satu persatu hidangan yang ada. Setelah kenyang dengan makanan, ia menuju ke peti sejuk yang sangat besar dimana tersimpan berbagai macam minuman di dalamnya. Tanpa terlewatkan satu pun, ia kecapi seluruh minuman yang ada di dalam peti sejuk tersebut. Sampai tak terasa dua jam telah berlalu, sungguh di luar dari yang ia rencanakan.
Tapi sayangnya, dalam kelalaian, kebodohannya berfikir, dia rasakan lapan jam juga lebih dari cukup untuk menampungkan semua rencananya. Setelah perutnya penuh dengan berbagai macam makanan dan minuman, otak bebalnya berusaha berorentasi dengan idea yang mungkin ia anggap cemerlang tapi sebenarnya ia hanya berakhir dengan kerugian .
Dari waktunya yang hanya tinggal lapan jam, dua jamnya ingin ia gunakan untuk terbang ke alam mimpi dengan beralaskan permadani yang sangat lembut. Sebab ia merasa terlalu lelah dan ingin memanjakan tubuhnya sejenak, sambil mengumpulkan tenaga. Hawa sejuk istana dengan aromanya yang wangi pun mempercepat penerbanganya ke alam mimpi.
Satu jam, dua jam, tiga jam, empat jam, lima jam telah berlalu, dan amat sangat di sayangkan di jam terakhir jam ke enam ia juga belum bangun dari tidurnya. Sampai akhirnya habislah waktu sepuluh jam ia lalui di dalam gudang harta sang raja.
Lalu kemudian…
“Hai orang miskin…..!!! bangun…!!! Bangun…!!! Waktumu sudah habis,” herdik pembantu raja membuatnya terjaga. Tapi ia masih setengah sadar karena tidurnya terlalu nyenyak. “Cepat bangun, waktumu sudah habis. Sudah sepuluh jam kamu di sini,” tegas si pembantu raja.
Akhirnya ia sedar juga dari tidurnya, tak terasa enam jam telah ia lalui dengan tertidur. Pengembaraanya yang indah ke alam mimpi, membuat ia mengembara ke dalam penyesalan terdalam dalam dirinya. Penyesalan kerana ia akan kembali hidup sengsara seperti sedia kala.
“Wahai tuan!!!! tolong berikan saya waktu 15 minit saja untuk saya mengambil harta raja secukupnya,” katanya memohon kepada pembantu raja.
“Tidak boleh!,” jawabnya tegas.
“Kalau lima minit bagaimana?” pintanya lagi.
“Tetap tidak boleh!, walau sedetik pun niscaya tidak akan aku berikan, raja telah bermurah hati memberikan 10 jam kepadamu. Kalau kamu belum mengambil harta raja sedikitpun, itu salah kamu. Sekarang mana yang engkau pilih, ingin keluar dari kerajaan ini secara terhormat, atau ku seret kau keluar dengan paksa?” kata si pembantu raja dengan tegas.
Dengan wajah putus harapan dan tubuh longlai seakan tak bertulang keluarlah ia dari kerajaan. Berlian yang begitu berharga, yang nilainya tidak dapat di gantikan oleh penjaga kedai pertama, kedua dan ketiga, bahkan oleh raja sekali pun, hanya ia ganti dengan makanan, yang setelah dua jam kemudian mungkin ia akan merasa lapar lagi.
Dengan minuman, yang mungkin setelah keluar dari kerajaan ia akan merasa kehausan lagi. Dan dengan tidur, yang pasti di keesokan harinya ia akan tidur lagi. Waktu yang raja berikan kepadanya ia sia-siakan begitu saja, tanpa ada bekasnya sedikit pun. Dan akhirnya, ia pun kembali miskin seperti sedia kala.
Dari cerita di atas, sedarkah kita siapa sebenarnya lelaki yang menemukan berlian berharga tersebut? Yang mana semua orang bahkan sampai raja sekalipun tidak bisa menggantikanya.
Tanpa kita sedari, lelaki tersebut adalah saya, anda, dan kita semua yang hidup di dunia ini.
Berlian yang berharga itu adalah usia yang kita miliki, yang tidak seorang pun dapat menggantikanya dengan harta berapa pun jumlahnya.
Raja yang berperanan di atas adalah Allah S.W.T yang telah memberikan kita waktu di dunia ini untuk menimba amal, menjadikan dunia ini ladang bercucuk tanam kebaikan untuk bekal kita di akhirat. Dan menjadikan setiap amalan dengan ganjarannya yang berlipat lipat.
Tapi memang mungkin kita yang kurang menyedari akan nikmat yang telah Allah S.W.T berikan. Kita yang telah terlena dengan gemerlapnya dunia sehingga lupa kemana tujuan kita sebenarnya. Kita telah mensia-siakan waktu yang Allah berikan dengan hal-hal tidak berguna seperti yang di lakukan lelaki miskin tersebut yang mana seharusnya ia bergegas ketika kesempatan itu masih lapang.
Dan pembantu raja itu adalah Izrail, sang malaikat pencabut nyawa. Jika batasan waktu hidup kita telah habis, maka ia tidak akan menunda walau sedetikpun. Ia tidak akan memberikan kita kesempatan walaupun satu kata taubat. Dan ketika nafas sudah sampai di kerongkongan maka ketika itu diperlihatkan di mana tempat duduk kita di akhirat, di syurga kah? Atau nerakakah? Mari sama-sama kita berlindung kepada Allah S.W.T agar di jauhkan dari siksaan neraka.
Akhirul kalam semoga Allah SWT memberi kita kekuatan untuk tetap beristiqomah di jalannya, menjalankan syariat-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dan menjadikan kita sebahagian dari orang-orang yang berkata dan mengamalkan perkataannya, bukan menjadikan kita sebahagian dari orang miskin yang melalaikan kesempatan. Dengan harapan besar rahmat, taufik dan hidayah-Nya selalu tercurah kepada kita di dunia dan di akhirat. Amin…

Read More»

Sunday, January 19, 2014

thumbnail

KISAH SEDIH LUAHAN HATI SEORANG AYAH ANAK KANDUNG MURTAD

Posted by Unknown  | No comments

KISAH SEDIH LUAHAN HATI SEORANG AYAH ANAK KANDUNG MURTAD |Kisah sedih yang akan saudara/saudari baca ini mengisahkan KISAH BENAR yangdiceritakan oleh bapa kepada Hartini yang telah keluar dari agama asalnya Islam seperti yang diceritakan kepada wartawan Majalah Muslimah. Semoga kita semua dapat merenung dan memikirkan apa yang dapat kita lakukan sekiranya ianya terjadi terhadap orang yang kita sayangi. 

MURTAD (KISAH BENAR) 



Kes Hartina Kamarudin heboh diperkatakan sekitar awal tahun 1996 lagi. Bagi mengetahui hal sebenar , pihak majalah Muslimah sempat menemui bapanya, Encik Kamaruddin Abdul Karim , abang sepupunya En Borhan Abd. Aziz dan adiknya Syukur Yazit Kamaruddin yang sudi menceritakan rentetan peristiwa tersebut. Malangnya ibunya, Puan Kalsom Ghani tidak mahu ditemubual atas sebab peribadi .Berikut adalah penjelasan En. Kamaruddin yang sudah terlalu banyak menempuh dugaan dan ujian dalam memastikan anaknya Hartina dapat dikembalikan kepada Islam.

Hartina dilahirkan pada 15 Mac 1974 di Kampar Perak. Beliau mendapat pendidikan awal pada peringkat rendah dan menengah di Anglo Chinese School (A.C.S), Kampar. Hartina merupakan anak kedua daripada empat beradik.Yang pertama meninggal ketika berusia 15 hari ,kedua Hartina , ketiga Azliza (17 tahun) dan keempat Syukur Yazit (16 tahun). Dari segi kasih sayang, tidak dinafikan Hartina mendapat sepenuh perhatian, mungkin ini salah satu dari kesilapan yang telah kami lakukan. Perbezaan antara Hartina dan adiknya agak jauh iaitu kira-kira enam tahun. Dia amat manja, maklumlah bagi pasangan seperti kami yang telah merasai kehilangan anak sulung semasa dalam pantang memang menyedihkan. Bayangkan bagaimana perasaan kami setelah kehilangan anak, mendapat penggantinya setahun kemudian. 


Kehadiran Hartina mengubah hidup kami, kasih kami tertumpah kepadanya ibarat kata pepatah "bagai menatang minyak yang penuh". Di sebabkan sewaktu itu hanya dia seorang anak kami , segala permintaannya kami penuhi. Setelah tamat sekolah, dia mengikuti kursus komputer di Kampar. Tidak lama kemudian dia mendapat pekerjaan di Hock Hua Bank Jalan Klang Lama Kuala Lumpur. Pada tahun 1993 dia bertukar ke MayBank, juga terletak di Jalan Klang Lama. Inilah kali pertama kami berjauhan dengannya. Untuk kemudahannya saya telah membelikan sebuah rumah untuknya yang terletak di Sri Sentosa. Dia tinggal bersama rakan-rakannya di rumah itu. Bermula dari situ perhubungan keluarga kami mula renggang kerana kami sudah tinggal berasingan. Walaupun begitu kami sering menziarahinya di Kuala Lumpur.

Segalanya bermula pada 26 Mac 1996. Saya bersama isteri pergi kerumahnya di Kuala Lumpur kerana kebiasaannya pada 15 Mac setiap tahun kami menyambut hari lahirnya. Pada tahun tersebut (1996) dia kata tidak dapat balik kampung. Di sebabkan pada tarikh itu saya ada menerima tempahan sate (En.Kamaruddin berniaga sate di Pekan Kampar, Perak) , jadi kami tidak dapat pergi ke rumahnya pada tarikh itu. Kami pergi dua minggu selepas itu iaitu pada 26 Mac 1996. Setibanya di rumahnya, kami dapati rumahnya berkunci, telahan saya mungkin dia belum pulang dari kerja. Kebetulan saya memang ada kunci spare, saya membuka pintu dan masuk ke dalam rumah. Lebih kurang jam 6.00 petang. Dia pulang bersama seorang lelak India. Dia terkejut melihat kedatangan kami dan saya sendiri terkejut kerana tidak menyangka dia pulang bersama seorang lelaki. Memang sebelum ini ramai yang ingin masuk meminang dan dia menyatakan yang dia telah ada seorang kawan, saya kata kalau ada kawan lebih elok terus datang meminang.

Setelah melihat keadaannya, baru terlintas di fikiran saya kawan yang dimaksudkan ialah lelaki India tersebut. Walaupun kami datang setiap bulan ,kami tidak dapat menghidu langsung pergerakannya dan dia sendiri menyembunyikannya dari pengetahuan kami. Melihat keadaannya , saya menyoal Hartina "Siapa yang kamu bawa ini?" Baru kami tahu hal sebenarnya, yang lelaki India itulah teman lelakinya . Sebaik saja kami bertanya Rajeswaran (lelaki India tersebut) bila dia ingin memeluk Islam jika benar-benar inginkan Hartina, Hartina te

Pada hari itu (26 Mac 1996) selepas bertembung dengan mereka pada 6.00 petang, kami telah berbincang mengenai kedudukan mereka sehingga 10.30 malam. Keadaan menjadi tegang kerana si lelaki tetap dengan keputusannya untuk tidak menukar agamanya dan mengatakan Hartina telah menjadi isterinya. Dia mula memegang hand-phone sambil mendail nombor. Tidak lama kemudian seorang demi seorang kawan-kawannya tiba di rumah itu . Mereka sudah ramai sedangkan saya hanya bersama isteri. Yang menghairankan saya Hartina ketika itu membisu sahaja. 

Semasa itu saya yakin Hartina masih Islam tetapi telah dipaksa membuat surat sumpah yang mengatakan dia tidak mempraktikkan lagi agama Islam. Berhubung dengan itu mereka (pihak lelaki) telah menukar namanya dari Hartina kepada Nivashiny Rajeswaran. Dalam peraturan perkahwinan India , seseorang yang masih bernama Islam tidak boleh berkahwin dengan lelaki India. Oleh sebab itu Hartina menukar namanya terlebih dahulu kemudian baru membuat pendaftaran perkahwinan. Saya yang tidak dapat pergi ke Kuala Lumpur pada 15 Mac 1996 untuk menyambut hari jadi Hartina dan telah pergi pada 26 haribulan sedangkan pendaftaran perkahwinan telah di buat pada 24 Mac 1996 ini bermakna saya telah terlewat dua hari. Bermakna hak Hartina sebagai anak sudah tiada kerana dia telah menjadi isteri orang. Bila orangnya sudah ramai di rumah tersebut ,baru lelaki itu berani menunjukkan segala dokumen-dokumennya. Bila ditunjukkan kepada saya, saya terkejut, jantung saya berdegup. Saya sebelum ini memang ada penyakit jantung. Ditambah dengan kejadian hari itu saya benar-benar terkejut. Saya bersama isteri berpandangan sendiri. 

Apa yang boleh kami lakukan sedangkan kami hanya berdua sahaja. Saya mencadangkan kepada isteri saya agar kami membuat laporan polis . Kami terus ke balai polis berhampiran iaitu di Petaling Jaya. Laporan itu tidak diterima kerana polis mengatakan yang perkahwinan mereka sah. Yang menyedihkan polis itu juga orang Melayu dan urusan pendaftaran perkahwinan dan tukar nama sebelum ini semua dikendalikan oleh orang Melayu. Jadi saya kata, kepada siapa saya dapat mengadu ?. Mereka menyuruh saya membuat laporan ke Jabatan Agama Islam Wilayah (JAWI) mengatakan anak saya telah dilarikan. Jadi pada 27 Mac 1996 (sehari selepas itu) saya membuat laporan polis. Selepas membuat laporan polis ,saya dan isteri pulang ke rumah ,kami tunggu Hartina dan lelaki India itu tetapi mereka tidak pulang ke rumah pada malam itu. Selepas itu saya membuat aduan di pejabat Agama Wilayah Persekutuan tetapi tiada sebarang tindakan yang diambil.

Inilah yang mengecewakan saya kerana awal-awal lagi saya telah menemui pegawai Pendaftaran yang bertanggungjawab menukarkan nama anak saya, saya kata kepadanya " Tuan sepatutnya memaklumkan terlebih dahulu kepada saya sebab di dalam kad pengenalannya tecatat alamat saya ,kenapa Tuan tidak memaklumkan kepada saya?. " Dia kata yang pihaknya telah memaklumkan kepada Pejabat Agama Islam Wilayah . Bila saya semak di JAWI, pegawai di JAWI berkata mereka tidak menerima apa-apa laporan daripada Jabatan Pendaftaran. Bermakna dalam tempoh yang singkat saya telah berulang-alik kesana kemari tanpa sebarang tindakkan yang diambil ke atas Hartina mahupun lelaki India itu. Selepas kejadian itu mereka langsung tidak pulang ke rumah di Sri Sentosa itu. Saya cuba mencari seorang rakan si lelaki itu yang turut sama berada pada malam 26 Mac itu. 

Lelaki itu bekerja di Pizza Hut, Subang Jaya. Saya meminta bantuan polis mencarinya untuk mengetahui di mana Hartina dan teman lelakinya tinggal. Lelaki yang bekerja di Pizza Hut itu mahu bekerjasama dengan polis dan telah menunjukkan tempat tinggal Hartina iaitu di Jalan Kelang Lama. Polis berjaya menangkap mereka. Keadaan Hartina tetap seperti dahulu, langsung tidak mahu bercakap dengan saya. Ketika itu saya sudah mahu bertindak tetapi apabila memikirkan orang sebelah pihak lelaki India itu ramai, saya membatalkan niat saya. Saya hairan kenapa Hartina langsung tidak mempunyai perasaan lagi pada ibu bapanya. Saya hairan perangainya benar-benar berubah. Jika pada saya dia tidak sayang tidak mengapa tetapi bagaimana dengan ibu yang telah mengandungkannya? Selepas itu saya telah membawa Hartina ke Pulau Pinang dan tinggal bersama saudara-mara. Sedar-sedar dia telah tiada. Adik saya di Perak telah menelefon saya mengatakan pihak lelaki akan mengadakan majlis makan malam bagi meraikan perkahwinan mereka di sebuah dewan di Perak.

 Pihak lelaki telah mengedarkan kad jemputan kahwin kepada kaum India. Sebaik sahaja mendapat berita itu, saya terus sahaja bertolak ke Perak. Setibanya saya di Perak, saya terus membuat aduan kepada Jabatan Agama Islam Perak dengan mengatakan pada 15 hb April 1996 pihak lelaki India itu akan mengadakan majlis makan malam. Pada 14 April, kira-kira pukul 12.00 tengah malam , Jabatan Agama Islam Perak membuat serbuan dan berjaya menangkap Hartina dan menahannya di Balai Polis Ipoh. Keesokannya Hartina dibawa ke Mahkamah Syariah untuk mendapatkan perintah reman selama seminggu. Sebelum sampai tempoh seminggu saya mendapat panggilan telefon dari Jabatan Agama Islam Perak yang mereka ingin menyerahkan Hartina kepada saya.

Atas faktor keselamatan saya telah menyerahkan Hartina kepada kawan adik ipar saya yang berada di Kelantan. Jadi pada 20 April 1996 dengan bantuan Jabatan Agama Islam Perak, kami berjaya membawa Hartina ke Kelantan. Kami menetap di sana sehingga 1 Mei 1996. Semasa kami di sana , saya diberitahu bahawa pihak lelaki telah menyaman Jabatan Agama Islam Perak kerana telah memalukan mereka di atas pembatalan majlis perkahwinan mereka. Pegawai Jabatan Agama Islam Perak meminta kami membuat surat sumpah daripada Hartina . Pada 31 April , kami terus membawa Hartina ke Pejabat Agama Islam Kelantan. 

Di sana Hartina telah mengaku masih beragama Islam dan kembali mengucap dua kalimah syahadah di hadapan tuan Kadi. Tuan Kadi telah mengeluarkan satu surat pengesahan mengatakan bahawa Hartina telah memeluk agama Islam kembali. Surat itu kami hantar ke Kuala Lumpur. Bermakna kami telah menang atas tuduhan mencolek Hartina. Rupa-rupanya ia tidak berhenti setakat itu. Selepas itu sampai lagi satu surat saman malu daripada si lelaki. Di dalam surat itu mereka menuntut gantirugi sebanyak 30 juta daripada Kerajaan Negeri Perak, Polis, Majlis Agama Islam Perak dan Jabatan Agama Islam Perak atas dakwaan memalukan mereka pada majlis makan malam meraikan perkahwinan mereka. Ini bermakna mereka tidak berpuas hati dan terus mencari alasan untuk merampas Hartina daripada kami.

Dari Kelantan saya terus kembali ke Pejabat Pendaftaran Petaling Jaya untuk proses penukaran kembali nama kepada Hartina di atas persetujuannya. Setelah segala- galanya selesai, pada 1 Mei 1996 kami sekeluarga telah membawanya ke Pulau Pinang. Di Pulau Pinang keadaan Hartina seperti biasa, dia tetap bergaul dengan saudara mara seperti biasa. Tiba-tiba di sana kami menerima sepucuk lagi surat saman daripada si lelaki mengatakan kami telah menculik isterinya. Saya membawa Hartina ke Mahkamah Pulau Pinang dan peguam di sana telah mengatakan surat itu adalah afidavit tertuduh jadi kami memerlukan seorang peguam dan satu jawapan bertulis. Pada 9 Mei 1996 saya bersama anak saudara saya (Borhan) telah pergi ke Kuala Lumpur untuk mendapatkan peguam. Saya berjaya mendapat seorang peguam dan saya menetap di Batu Caves untuk menguruskannya. 

Tiba-tiba saya mendapat berita dari Pulau Pinang yang mengatakan Hartina telah tiada. Saya terus mengesannya di Pulau Pinang tetapi tidak berjumpa .Kemudian saya terus ke Shah Alam dan bertemu dengan polis yang mengendalikan kesnya. Pegawai polis tersebut mengatakan bahawa dia ada menerima laporan daripada Hartina yang mengatakan dia keluar daripada rumah bapa saudaranya di Pulau Pinang secara sukarela .Saya tidak boleh berbuat apa-apa . Ketika itu tidak dapat dinyatakan bagaimana perasaan saya, bayangkanlah dalam tempoh yang singkat dan badan yang sudah uzur, saya terpaksa melalui segalanya seorang diri. Saya tinggalkan rumah dan perniagaan saya berbulan-bulan. Saya asyik berulang alik sahaja ke Kelantan, Pulau Pinang, Kuala Lumpur dan Shah Alam. Walaubagaimana banyak laporan yang saya lakukan , tiada langsung tindakan susulan diambil untuk mengesan Hartina dan lelaki India itu oleh pihak berkuasa. Alasan mereka, mereka tidak tahu di mana anak saya dan lelaki itu berada.

Akhirnya saya mengupah seorang kawan saya untuk mengintip mereka . Empat minggu kawan saya mencari ,minggu keempat baru jumpa. Kawan saya itu memerlukan masa yang agak lama kerana dia menguruskannya seorang diri , tambahan pula dia bekerja di waktu siang. Menurut rakan saya ini, Hartina dan lelaki India itu menetap di Taman Medan, Jalan Klang Lama. Apabila saya mendapat tahu saya terus ke Balai Polis Shah Alam dan mengadu ke bahagian Penguatkuasa. Saya amat tidak berpuashati kerana polis tidak mahu bertindak. Seterusnya saya ke pejabat Kemajuan Islam (JAKIM) , Pusat Islam. Mereka menyuruh saya membuat satu laporan baru. Menerusi laporan yang saya buat, saya mengatakan yang pihak si lelaki telah menggugat akidah anak saya. Mereka telah menetapkan 5 September 1996 sebagai tarikh untuk menyerbu rumah itu. 

Pada 5 Sept 1996 kira-kira jam 11.00 pagi saya bersama seorang pegawai Pusat Islam, dua orang Pegawai Polis dan seorang Penguatkuasa JAIS telah pergi ke rumah tersebut. Kami meminta kebenaran masuk, setelah masuk, kami meminta mereka memberi keterangan diri pula. Bila mendapat keterangan diri, baru saya mendapat tahu Hartina telah menukar kembali namanya kepada nama Hindunya. Pada 31 September 1995 dia menukar namanya kepada nama Hindu buat pertama kali , pada 30 April 1996 saya menukarkan pula nama Hindunya kepada nama Islamnya dan pada 27 Mei 1996 dia menukarkan namanya kembali kenama Hindu . Bermakna semasa dia keluar dari rumah bapa saudaranya di Pulau Pinang pada 9 Mei 1996 hanya pada 27 Mei 1996 dia menukar kembali namanya ke nama Hindunya. Ini bermakna proses pertukaran nama hanya dalam masa dua minggu sahaja.

Sebelum daripada itu saya ada menalipon pegawai pendaftaran yang bertugas di bahagian menukar nama dan memberi ingatan kepadanya agar jika ada percubaan dari pihak Hartina dan teman lelaki Indianya itu ingin menukarkan nama Hartina kembali, cuba lengahkan. Saya sentiasa berhubung dengan pegawai ini tetapi hasilnya tetap mengecewakan. Hal yang saya tidak ingini tetap berlaku. Bermakna jika proses pertukaran tidak berlaku tentu kami akan menang kes ini. Tindakan Hartina dan teman lelaki Indianya lebih cepat, ini bukan bermakna saya tidak bertindak , saya telah melakukan dengan sedaya upaya saya , tetapi seperti apa yang saya nyatakan awal-awal tadi, saya melakukannya seorang diri dan pihak berwajib tidak memberikan sepenuh kerjasama kepada saya sekeluarga.

Kejadian serbuan 5 September 1996 itu benar-benar mencabar kewibawaan saya. Ketika Pegawai Penguatkuasa itu berkata "Kami tak boleh berbuat apa-apa", saya terus naik ke tingkat atas, dalam masa saya naik, si lelaki membawa Hartina masuk ke bilik dan menguncinya dari dalam. Kemudian lelaki itu berdiri di hadapan pintu sambil mencekak pinggang. Tujuan saya naik ketika itu adalah untuk memujuk Hartina, tetapi leaki India terlebih dahulu telah membawa Hartina masuk ke dalam bilik. Saya bersuara dengan lembut untuk memujuk lelaki itu supaya memeluk Islam dan selepas itu dia boleh mengambil anak saya sebagai isteri dan saya boleh memberikan rumah saya di Seri Sentosa itu kepada mereka. Itulah perkataan yang saya ulang beberapa kali , tetapi lelaki India itu diam sahaja.Tidak lama kemudian dia bersuara dalam bahasa Tamil dengan perkataan yang sungguh kesat dan kurang bersopan.

Katanya: "kalau hendak mengadu, mengadulah, apa kerajaan Malaysia boleh tolong kamu?" Sambil itu dia mengutuk Islam dengan kata-kata yang lucah. Ketika itu saya tahu bukan dia seorang sahaja yang terlibat, tetapi mungin ada dalang di belakangnya. Ketika dia menghina Islam, saya tidak dapat menahan perasaan, kesabaran saya tercabar. Hati saya benar- benar panas, saya mengeluarkan pisau lipat dari poket seluar dan saya tidak sedar yang pisau itu saya gunakan untuk mengelar lehernya. Saya juga tidak menghiraukan polis yang ada di belakang saya yang ketika itu sedang menghubungi ketuanya untuk mendapatkan kebenaran pecah pintu untuk membawa Hartina ke balai. Polis itu terkejut dan segera menahan darah yang memancut keluar dari leher Rajeswaran dan membawanya turun ke bawah. Berikutan peristiwa itu saya telah ditahan sehingga 16 Sept 1996 dengan jaminan RM3000.00. Setelah dibebaskan, sepanjang bulan September saya tidak ke mana-mana lagi , hanya duduk di rumah sahaja.

Pada 1 Oktober 1996 saya mula berniaga. Kegiatan saya selepas itu hanya berniaga dan duduk di rumah sahaja. Kebetulan pada 1 Disember 1996 Hartina dan Rajeswaran datang bersama dengan rombongannya dan minum betul-betul di hadapan tempat saya berniaga. Apa niat sebenar mereka ?. Saya mula berniaga jam 6.00 petang dan saya ditemani anak bongsu saya Syukur Yazit yang ketika itu berumur 14 tahun . Semasa saya baru mengeluarkan barang perniagaan sate saya, lebih kurang empat atau lima meter di hadapan saya, saya nampak mereka semua sedang minum. Saya meletakkan barangan sate saya dan cuba pergi kearahnya (Hartina). Tujuan saya adalah untuk bersembang dan memujuknya sekali lagi. Mana tahu jika hatinya terbuka untuk kembali semula kepada Islam. 

Seelok sahaja saya sampai , Hartina bangun , seorang demi seorang kawan-kawannya bangun. Saya tahu mereka bersedia untuk menyerang saya, saya berpatah semula ke gerai saya untuk mengambil parang untuk mempertahankan diri. Tanpa saya sedari di belakang saya orangnya sudah menunggu . Lelaki yang bertubuh besar itu menendang saya dari arah belakang. Saya yang sememangnya ada penyakit jantung dan sakit belakang tidak mampu melawan. Saya jatuh tersungkur. Selepas itu kawan-kawannya yang lain datang meluru ke arah saya, ada yang menendang, memijak , menumbuk dan bermacam-macam lagi mereka buat pada saya. Ada juga yang melemparkan batu ke arah saya. Akhirnya saya pengsan kerana tiada tenaga untuk melawan.

Apabila saya tersedar saya dapati, saya berada di Hospital Kampar. Dari Hospital Kampar saya dihantar ke Hospital Ipoh. Semasa di hospital saya nampak ada seorang polis menuju ke arah saya. Saya ingatkan polis mengawal saya , tetapi rupa- rupanya mereka menjaga saya agar tidak melarikan diri kerana saya disabit melakukan jenayah di atas aduan Hartina yang mengatakan saya menyerang mereka. Saya menyoal polis itu: "Apakah hanya untuk minum petang sanggup datang dari Kuala Lumpur semata-mata untuk minum di situ?" Berdasarkan lapuran polis yang dibuat oleh Hartina itu, keluar saja dari wad saya terus dibawa ke balai dan ditahan di dalam lokap selama lapan hari. Bayangkanlah dari wad saya terus ke balai tanpa pulang ke rumah dahulu. Bila saya masuk lokap, saya lihat Yazit sudah ditahan. Dia dimasukkan dua hari sebelum saya ditahan. Baru saya tahu rupa-rupanya semasa saya diserang, Yazit telah bertindak mengambil parang dan membelasah orang-orang Rajeswaran. Itulah kasih anak, dalam usia 14 tahun sanggup menggunakan senjata tajam semata-mata untuk mempertahankan bapa. (En.Kamaruddin terhenti seketika sambil menyapu airmata) . 

Selepas sembilan hari kami dibebaskan dengan jaminan RM2000.00 seorang. Selepas itu saya hanya berehat sahaja dirumah kerana badan saya masih terasa sakitnya. Walaupun saya berehat di rumah, saya terus berhubung dengan peguam saya untuk mendapatkan maklumat mengenai perkembangan Hartina dan Rajeswaran. Setelah empat bulan berehat, saya mendapat surat dari Mahkamah yang telah menetapkan 4 Mei 1998 sebagai tarikh perbicaraan pertama dijalankan. Rajeswaran adalah saksi ketiga. Selepas dua minggu daripada tarikh perbicaraan itu, iaitu pada 20 Mei 1998 pada sebelah pagi, Rajeswaran terkena dua das tembakan. Maknanya sejak dari Mac 1996 Rajeswaran tidak kena apa- apa tembakan pun, tiba-tiba pada 20 Mei iaitu selepas tarikh perbicaraan dia terkena tembakan. Berdasarkan atas apa yang mereka lapor sebelum ini ada mengatakan jika ada apa-apa terjadi ke atasnya, orang pertama yang disyaki adalah saya.

Berikutan dengan itu saya telah ditahan sekali lagi di Balai Polis Kampar selama tiga jam pada 20 Mei 1998. Saya diheret bersama Yazit yang turut juga disyaki. Yang menghairankan ialah Yazit turut dituduh terlibat sedangkan ketika itu usianya baru 16 tahun. Jika benar saya melakukan, takkanlah budak seusia Yazit yang akan saya babitkan bersama. Kami berdua digari. Polis yang menggari kami juga terkejut melihat saya. Sebenarnya sebelum kejadian itu polis telah berjumpa dengan saya, memberi nasihat agar tidak lagi melakukan kekecohan dan menasihati saya agar melakukan solat hajat dan berdoa. Saya ikut nasihatnya, tambahan pula saya baru selesai menjalani pembedahan tulang belakang. Takkanlah saya tergamak melakukan perkara merbahaya itu? Tetapi saya tidak berkuasa, saya hanya menurut perintah dan arahan pihak polis. Kami telah disoal, Yazit telah dipaksa mengaku bahawa kami yang merancang kejadian tembakan itu.

 Selepas seminggu Yazit dibebaskan, saya masih ditahan selama dua minggu. Segala akuan saya disiasat. Mereka bertanya saya telah mengupah siapa dan berapa yang saya bayar untuk mengupah penjenayah itu. Saya tetap tidak mengaku kerana saya tidak tahu apa-apa. Mereka memukul Yazit dengan tujuan supaya saya mengaku setelah melihat Yazit diseksa dengan teruk. Akhirnya Yazit terpaksa berbohong dan mengaku ada melakukannya kerana sudah tidak tahan dipukul dengan teruk. Saya katakan kepada polis, apabila keadaan semakin teruk, segala yang benar menjadi palsu dan pekara palsu menjadi benar. Saya tetap tidak mengaku sehingga polis menangguhkan kes saya untuk di bicarakan. Selepas dua minggu saya di bebaskan, sehingga kini ia masih dalam kes. Itulah serba sedikit kejadian dan rentetan peristiwa yang dialami oleh kami sekeluarga. Bukan tujuan saya untuk membuka aib sendiri, bahkan ianya lebih bertujuan sebagai pengajaran dan panduan kepada orang lain.

Apa yang saya harapkan agar tidak ada lagi Hartina kedua selepas kejadian yang menimpa Hartina, anak saya itu. Sebelum tidur macam-macam perkara yang saya fikirkan. Adakalanya timbul persoalan, kenapa begitu kuat ujian yang saya perlu tempuhi?. Kenapa saya yang melalui segala ini? Apabila teringatkan terjemahan ayat dari surah An'am ayat 125 saya beristighfar. Ayat yang bermaksud. "Sesiapa yang dikehendakki oleh Allah, akan dibuka pintu hatinya dan sesiapa yang tidak dikehendakki, maka akan disempitkanNya". Apabila sesuatu perkara telah menimpa ke atas kita, kita harus menerimanya sebagai salah satu daripada rukun Iman. Qada dan Qadar dari Allah, itu adalah kehendak Allah. Itulah caranya saya memujuk hati saya.

 Harapan saya sekarang ialah agar Hartina kembali kepada Islam. Dunia ini luas, duduklah di mana-mana asalkan dalam agama Islam. Tidak perlulah dia kembali kepada kami. Bukan kami tidak memaafkannya, tetapi cukuplah penderitaan dan penyiksaan yang kami lalui atas perbuatannya itu. 

rus menunjukkan surat-surat di antaranya surat sumpah bertarikh 1 September 1995 yang mengatakakan bahawa dirinya tidak mempraktikkan agama Islam lagi, telah menukar namanya kepada Nivashiny Rajeswaran dan surat pendaftaran perkahwinan mereka bertarikh 24 Mac 1996 . Saya mempertikaikan surat sumpah tersebut kerana bagaimana mereka (pihak berkuasa) boleh mengesahkan apa saja kenyataan pemohon tanpa meneliti terlebih dahulu.Berdasarkan surat sumpah melalui peguamnya yang menyatakan dia tidak mempraktikkan ajaran Islam, ternyata pembohongan semata-mata. Sepanjang zaman tempoh dia tinggal bersama kami dia telah dididik dengan ajaran Islam, sepanjang zaman persekolahannya saya tidak pernah mendengar apa-apa mengenai Hartina tidak mempraktikkan Islam walaupun daripada kawan-kawannya sendiri.

 Setelah berlaku perkara ini barulah saya tahu rupa-rupanya lelaki India itu bersekolah di sekolah yang sama dengan Hartina dan tinggal di Mambang di Awan, Kampar. Memanglah di sekolah Hartina ramai kawan lelaki tetapi saya tidak pernah mengesyaki apa-apa, maklumlah zaman sekolah memang banyak bergaul dengan rakan lelaki. Kami juga baru tahu si lelaki itu bekerja di Public Bank di Jalan Kelang Lama. Ini bermakna sudah lama mereka berkawan yang hairannya kami tidak dapat menghidu langsung perhubungan mereka. Bermakna sepanjang tempoh berulang dari Kuala Lumpur ke Kampar setiap bulan pun kami tak dapat hidu. Sedangkan pada hari Raya Puasa tahun 1996 iaitu pada 21 Feb 1996 Hartina balik kampung dan kami sekeluarga bersembahyang bersama-sama. Bermakna ketika itu dia telah berkawan dengan lelaki India itu dan telah menukar nama dan agamanya, bagaimana kami tidak mengetahuinya langsung?. 


Read More»

Tuesday, January 14, 2014

thumbnail

MENYAYAT HATI..KISAH SEORANG ISTERI TIDAK DAPAT MENUNAIKAN PERMINTAAN TERAKHIR SUAMINYA

Posted by Unknown  | No comments


MENYAYAT HATI..KISAH SEORANG ISTERI TIDAK DAPAT MENUNAIKAN PERMINTAAN TERAKHIR SUAMINYA |Selamat Datang Semoga Info Dapat Beri Manfaat Para Isteri Di luar Sana....Selamat Membaca...

Peristiwa yang menimpa diri saya kira-kira dua tahun yang lalu sering datang meragut ketenangan yang cuba di pupuk hari demi hari. Saya selalu kecundang. Justeru saya masih belum dapat memaafkan kesalahan yang telah dilakukan. Kesalahan yang disangka ringan, tetapi rupa-rupanya mendatangkan rasa bersalah yang tidak pernah berkesudahan hingga ke hari ini. Ingin saya paparkan peristiwa yang menimpa diri ini untuk tatapan anda sekalian, untuk dijadikan teladan sepanjang hidup. Untuk pengetahuan semua, di kalangan sahabat-sahabat dan saudara-mara, saya dianggap sebagai seorang isteri yang baik. Tetapi keterlaluan jika dikatakan saya menjadi contoh teladan seorang isteri bekerja yang begitu taat berbakti kepada suami. Walau bagaimana penat dan sibuk sekalipun, urusan rumahtangga seperti melayan suami dan menguruskan anak-anak tidak pernah saya abaikan.

Kami di anggap pasangan romantik. Suami saya seorang lelaki yang amat memahami jiwa saya, berlemah lembut terhadap keluarga, ringan tulang untuk bersama-sama menguruskan rumah apabila pulang dari kerja dan lain-lain sifat yang baik ada pada dirinya. Waktu sembahyang dan waktu makan merupakan waktu terbaik untuk mengeratkan ikatan kekeluargaan dengan sembahyang berjemaah dan makan bersama. Pada waktu inilah biasanya beliau akan memberi tazkirah dan peringatan kepada kami agar menjadi hamba yang bertakwa. Dari sudut layanan seorang isteri terhadap suami, saya amat memahami akan kewajipan yang harus ditunaikan. Itulah peranan asas seorang isteri terhadap suaminya. Allah menciptakan Hawa semata-mata unutk melayan Adam dan menghiburkannya. Meskipun syurga dipenuhi dengan kekayaan dan kemewahan, namun tidak mampu mengisi jiwa Adam yang kosong melainkan dengan diciptakan Hawa. Oleh itu saya menganggap tugas mengurus rumahtangga, mengurus anak-anak dan bekerja di pejabat adalah tugas nombor dua setelah tugas pertama dan utama, iaitu melayani suami. Sebagai seorang yang juga sibuk di pejabat, adakalanya rasa penat dan letih menghambat sehingga saya pulang ke rumah. Tetapi saya bersyukur kerana suami amat memahaminya. Berkat tolong-menolong dan bertolak-ansur, hal tersebut tidak pernah menjadi masalah di dalam rumahtangga. Bahkan sebaliknya menumbuhkan rasa kasih dan sayang antara satu sama lain kerana masing-masing dapat menerimanya dan mengorbankan kepentingan masing-masing.

Sehinggalah tiba pada satu hari yang mana pada hari itu datangnya ketentuan Allah yang tidak dapat diubah oleh sesiapa pun. Hari itu merupakan hari bekerja. Agenda saya di pejabat amat sibuk, bertemu dengan beberapa orang pelanggan dan menyelesaikan beberapa tugasan yang perlu disiapkan pada hari itu juga. Pukul lima petang saya bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Penat dan letih tidak dapat digambarkan.

Apabila sampai di rumah, saya lihat suami telah pulang dari pejabat. Dia telah membersihkan dirinya dan sedang melayani anak-anak, bermain-main dan bergurau senda. Dia kelihatan sungguh gembira pada pada petang itu. Saya begitu terhibur melihat telatah mereka, kerana suasana seperti itu jarang berlaku pada hari bekerja. Maklumlah masing-masing penat. Suami sedar saya amat penat pada hari itu. Oleh itu dia meminta agar saya tidak memasak, sebaliknya mencadangkan agar kami makan di sebuah restoran makanan laut di pinggir bandar. Dengan senang saya dan anak-anak menyetujuinya. Kami pulang ke rumah agak lewat, kira-kira jam 11 malam. Apa tidaknya, kami berbual-bual panjang ketika makan, bergurau-senda dan usik-mengusik. Seperti tiada hari lagi untuk esok. Selain anak-anak, suami sayalah orang yang kelihatan paling gembira dan paling banyak modal untuk bercakap pada malam itu. Hampir jam 12 barulah masing-masing merebahkan badan di katil. Anak-anak yang kekenyangan segera mengantuk dan lelap. Saya pun hendak melelapkan mata, tetapi belaian lembut suami mengingatkan saya agar t idak tidur lagi. Saya cuba menggagahkan diri melayaninya, tetapi hati saya hanya separuh saja jaga, separuh lagi tidur.

Akhirnya saya berkata kepadanya sebaik dan selembut mungkin, "Abang, Zee terlalu penat," lalu saya menciumnya dan memberi salam sebagai ucapan terakhir sebelum tidur. Sebaliknya suami saya terus merangkul tubuh saya. Dia berbisik kepada saya bahawa itu adalah permintaan terakhirnya. Namun kata-katanya itu tidak meresap ke dalam hati saya kerana saya telah berada di alam mimpi. Suami saya perlahan-lahan melepaskan rangkulannya.

Keesokannya di pejabat, perasaan saya agak tidak menentu. Seperti ada perkara yang tidak selesai. Saya menelefon suami, tetapi tidak berjawab. Sehinggalah saya dapat panggilan yang tidak dijangka sama sekali - panggilan dari pihak polis yang menyatakan suami saya terlibat dalam kemalangan dan dikehendaki datang segera ke hospital. Saya bergegas ke hospital, tetapi segala-galanya sudah terlambat. Allah lebih menyayangi suami saya dan saya tidak sempat bertemunya. Meskipun redha dengan pemergian suami, tetapi perasaan terkilan dan bersalah tidak dapat dikikis dari hati saya kerana tidak melayaninya pada malam terakhir kehidupannya di dunia ini. Hakikatnya itulah pahala terakhir untuk saya sebagai seorang isteri. Dan yang lebih saya takuti sekiranya dia tidak redha terhadap saya pada malam itu, maka saya tidak berpeluang lagi untuk meinta maaf daripadanya.

Sabda Rasulullah s. a. w, "Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, tiada seorang suami yang mengajak isterinya tidur bersama di tempat tidur, tiba-tiba di tolak oleh isterinya, maka malaikat yang di langit akan murka kepada isterinya itu, hingga dimaafkan oleh suaminya." Sehingga kini, setiap kali saya terkenang kepadanya, air mata saya akan mengalir ke pipi. Saya akan bermunajat dan memohon keampunan daripada Allah. Hanya satu cara saya fikirkan untuk menebus kesalahan itu, iaitu dengan mendidik anak-anak agar menjadi mukmin sejati. Agar pa hala amalan mereka akan mengalir kepada ayah mereka. Hanya itulah khidmat yang dapat saya berikan sebagai isterinya. Itulah harapan saya ... semoga Allah perkenankannya.



SUMBER
Read More»

Monday, January 13, 2014

thumbnail

SEDIH...PELAJAR BAYAR YURAN DENGAN DUIT SYILING++MENITIS AIR MATA

Posted by Unknown  | No comments

SEDIH...PELAJAR BAYAR YURAN DENGAN DUIT SYILING++MENITIS AIR MATA |Sedihnya baca kisah ini. Kisah yang sedang hangat tersebar di laman2 sosial. Sekarang neh aku nak minta tolong satu perkara. Individu yang menulis kisah ini diminta tampil supaya mereka2 yang nak bantu pelajar terbabit dapat hulurkan bantuan.

Minta tolong la ek.

Dalam pada itu aku dedikasikan cerita neh untuk 4 individu penting dalam negara yang mana kerja2 dorang asyik nak memperbodohkan rakyat aje. Hopefully dengan serba sedikit coretan ikhlas neh dapat membuka ahti pihak2 tertentu agar lebih peka dengan masalah kenaikan kos sara hidup yang membelenggu rakyat marhaen ketika ini.

CC untuk ;

1. Najib Razak

2. Hasan Malek

3. Harussani

4. Jamil Khir

Dengan ucapan ==> TOLONG TAKE NOTE.




Baca ;

[MUHASABAH: Bayar Yuran Sekolah Pakai Duit Syiling]

Pagi - pagi saya terima whatsapp gambar ini dari adinda saya. Ni gambar duit yuran seorang pelajar yang masuk mendaftar ke sekolah semalam di Kuala Lumpur. Datuknya membawa punjut duit syiling yang bernilai RM64.00. Itu pun tak cukup untuk membayar yuran sekolah tersebut. Guru - guru ' topup' untuk pelajar tersebut. Pelajar ini, kematian ibu sedari umurnya sebulan lagi. Bapa dipenjara kerana masalah dadah. Nenek bekerja sebagai cleaner dan akan tamat kontrak pada bulan Jun nanti. Datuknya sudah tidak berdaya untuk bekerja dan menerima bantuan PERKESO RM350.00. Berapalah sangat RM350.00 hidup di bandaraya Kuala Lumpur ini.

Bayangkan, semua orang menunggu untuk guru mengira jumlah duit syiling yang di bawa oleh datuk tersebut. Kasih seorang datuk untuk menyekolahkan anak ini. Semasa menulis cerita ini, saya beberapa kali terbabas kerana sebak. Dalam dunia semakin pantas ini, di ibu kota ini, masih ada golongan yang dikategorikan sebagai miskin tegar. Keluarga ini, sudah memohon beberapa kali bantuan zakat, namun kerana kerenah birokrasi , bantuan tidak disalurkan kepada mereka. Mungkin inilah sepatutnya tugas wakil rakyat atau pemimpin masyarakat. Mencari mereka yang terpinggir ini. Selalunya golongan ini, tidak akan meminta - minta untuk menagih simpati ramai. Malah mungkin hidup mereka lebih bahagia dengan jumlah wang yang sedikit tetapi dimanfaatkan sepenuhnya. Sebenarnya, inilah ladang pahala untuk kita yang setiap hari membazir. Membazir makanan, membazir pakaian, membazir masa dan sebagainya.

Kisah anak ini, mungkin ada juga di tempat lain. Cuma kita sahaja yang belum mencarinya. Saya juga ditunjukkan gambar anak - anak ini. Comel - comel dan gembira sahaja rupanya. Seronok hendak ke sekolah seperti orang lain juga. Namun bajunya tak serupa orang lain. Kekuningan, besar dan lusuh, mungkin juga pemberian orang lain. Gambar ini disebar bukan untuk menagih simpati. Gurunya yang sebar di kalangan rakan - rakan kami sahaja kerana sudah tidak tertahan lagi melihat kepayahan hidup yang anak ini bakal tempuhi. Mana tak sebak, belum pernah dalam sejarah sekolah, mengira duit syiling yang belum tentu cukup untuk dijadikan yuran sekolah.

Akhir kalam, duit gaji atau bonus yang kita terima, sedekahlah kepada golongan seperti ini, kerana di dalam duit gaji kita, pasti ada hak orang lain. Pengajaran juga buat saya, agar tidak mewahkan anak - anak, mana tahu ada rakan - rakan yang tidak bernasib baik. Pasti hati kecil mereka sayu dan tersentuh hati, mereka tidak semewah anak - anak lain. Tiada ipad, tiada tv mungkin, tablet pc jauh sekali. Mungkin pegang komputer hanya di sekolah.

Cerita ini bukan rekaan. Berlaku di sebuah sekolah rendah agama di Kuala Lumpur pada Januari 2014. Alhamdulillah, masih ada yang berhati mulia untuk membantu. Jika ada sebarang pertanyaan dan masalah, sila ajukan kepada saya atau komen di bawah.


Rujukan : sini. 

Kemaskini. Untuk sesiapa yang berminat membantu dan menyumbang, tolong pergi ke sini untuk info yang detail. Terima kasih kepada mereka2 yang prihatin dan menderma. Jasa baik anda insya-Allah akan dikenang.



SUMBER
Read More»

Saturday, January 11, 2014

thumbnail

Kisah Sedih Kucupan Terakhir Buat Isteri Tercinta++MESTI BACA

Posted by Unknown  | No comments


Kisah Sedih Kucupan Terakhir Buat Isteri Tercinta++MESTI BACA | Kisah yang sangat menyayat hati dan menyentuh jiwa da perasaan. Kisah sang suami merelakan isterinya pergi. Kisah Abil dan Allayarham isterinya, Gee.

"Pergilah Gee. Pergilah! Walau selepas ini abang tidak lagi dapat mendengar suara rengekmu, tidak lagi dapat menyapu air matamu, namun abang reda.

"Pergilah! Abang yakin, di sana DIA menyediakan tempat lebih baik untukmu. Di sana, akan hilang segala sakit menyerang. Akan lenyap segala derita yang sayang tanggung selama ini."

Dalam kesayuan, Abil Fikri Ahmad, 44, masih murah dengan senyuman. Namun, tangis di hatinya, hanya dia saja yang tahu.

Pemergian isteri tercinta, Fauziah Muhamad, 39, kira-kira jam 9.50 pagi semalam, pasti menjerut tangkai hatinya.

Fauziah atau lebih mesra dipanggil Gee, menderita penyakit saraf sejak hampir dua tahun lalu. Bermula dengan serangan lelah, Gee kemudian menderita lumpuh.

"Gee tidak menunjukkan sebarang perubahan. Cuma sejak kebelakangan ini, keadaannya tenang berbanding biasa. Tidur malamnya sangat lena.

"Malam tadi pun (kelmarin), saya meneman Gee hingga jam 2 pagi. Seperti biasa, saya duduk di sisinya. Melihat matanya, bibirnya segenap wajahnya. Saya tidak pernah rasa puas merenung Gee. Dan selepas ini, tidak lagi wajah itu untuk saya tatap..."

Suara Abil seolah tersekat. Dadanya sebak.

“Pagi tadi (semalam) selepas solat Subuh, saya curi masa untuk tidur sebelum bangun semula bagi dia minum susu. Ketika sedang bancuh susu di tepi katil, Gee tiba-tiba menarik nafas dengan kuat. Dua kali...

"Dia pergi dengan tenang. Wajahnya juga sangat tenang dan bersih. Gee memang isteri yang baik," nada suara Abil semakin hiba. Memanglah berat mata kita melihat kesedihan ditanggung Abil. Namun, berat lagi hatinya menanggung kesedihan atas kehilangan isteri tercinta.

"ALLAH pinjamkan Gee kepada saya hanya sementara ketika dia sihat dan sakit. Sekarang ALLAH ambil dia kembali. Walau sekasih mana pun saya pada Gee, ALLAH lebih menyayangi dia. Saya reda!"

Menurut Abil, sejak hujung Januari lalu kesihatan isterinya tidak lagi menentu. Berat badannya semakin menyusut. Mulutnya pula tidak lagi dapat ditutup.

Malah katanya, arwah tidak lagi menunjukkan sebarang tindak balas ketika diusik berbanding biasa.

"Saya melihat perubahannya. Semakin hari semakin lemah.

“Sebelum ini jika saya usik tapak kaki Gee, dia akan bertindak balas. Tapi sejak akhir-akhir ini tiada lagi.

“Dia pun tidak lagi marah-marah atau merengek. Apa yang saya nampak keadaannya sangat tenang dan dia akan buka mata setiap kali saya berada di dalam bilik,” katanya.

Selain itu katanya, sebelum ini, menerusi laman blognya, dia juga turut meminta rakan-rakan dan pembaca agar sama-sama mendoakan keadaan kesihatan isterinya yang semakin tidak menentu.

Namun ajal dan maut di tangan TUHAN. Isteri tersayang yang dijaga penuh perhatian akhirnya pergi buat selama-lamanya.

“Ketika dia sihat saya pernah tanya adakah dia berpuas hati saya menjadi suaminya dan dia cakap dia bersyukur.

“Tapi sekarang saya hanya dapat tanya diri sendiri, adakah saya telah menjaga isteri saya dengan baik ketika dia sakit dan menjalankan tanggungjawab dan ujian daripada ALLAH ini dengan sempurna,” katanya.

Ketika ditanya tentang perancangannya selepas ini, kata Abil, dia tiada perancangan khusus namun berhasrat menjadi pakar motivasi bagi berkongsi pengalaman tentang alam rumah tangga.

Sementara itu, rumah Abil tidak putus-putus dikunjungi orang ramai termasuk Raja Datin Seri Salbiah Nujumuddin dan pemimpin setempat.

Jenazah Allahyarham disembahyangkan di Masjid Jamek Rasah dan selamat dikebumikan di Makam Haji Said, Sikamat kira-kira jam 4 petang.

Abil mendirikan rumah tangga dengan Fauziah pada 13 Mac 2009, namun selepas dua tahun merasai nikmat alam rumah tangga, isterinya mendapat serangan asma pada 22 Jun 2011 dan sejak itu dia disahkan lumpuh selain saraf otaknya tidak lagi
berfungsi.

Abil yang bekerja sebagai perunding kewangan kemudian mengambil keputusan berhenti kerja kerana nekad mahu menjaga isterinya sepenuh masa sebaik mungkin.

Penderitaan dan ketabahan Abil menjaga isterinya mendapat perhatian umum yang bersimpati selain kagum dengan sikapnya.

"Moga di sana nanti Gee lebih damai. Moga di sana nanti Gee lebih bahagia. Moga di sana ALLAH menempatkannya bersama para syuhada. Dan moga ALLAH mempertemukan Gee dan Abil di syurga abadi."


sumber
Read More»

Friday, January 10, 2014

thumbnail

MENYAYAT HATI.. GAMBAR ANAK YATIM MELUKIS GAMBAR IBUNYA DI ATAS LANTAI LALU MEMELUK IBUNYA++Hargai Kedua Ibu Bapa Anda Selagi Hayat Dikandung Badan

Posted by Unknown  | No comments



MENYAYAT HATI.. GAMBAR ANAK YATIM MELUKIS GAMBAR IBUNYA DI ATAS LANTAI LALU MEMELUK IBUNYA++Hargai Kedua Ibu Bapa Anda Selagi Hayat Dikandung Badan |Akibat kematian ayah atau ibu, seorang anak akan merasakan suatu kekosongan dalam hidupnya. Kosong dari curahan kasih sayang dan segala aspek yang memenuhi keperluan hidup seperti makan, minum, pakaian, dan lain-lain.
Ini menyebabkan seseorang anak yatim itu selalu dihantui oleh perasaan sedih dan hampa. Realiti yang ada di tengah masyarakat sekarang menunjukkan bahawa majoriti anak yatim yang tidak mendapat perhatian yang sewajarnya mengharungi kehidupan yang begitu sukar, menyedihkan dan tersisih.
Islam, sebagai agama yang menitikberatkan perihal kasih sayang sangat menekankan agar kita mengambil berat terhadap anak yatim sehinggakan al-Quran sendiri secara khusus banyak membicarakan masalah anak yatim ini lebih daripada perihal anak-anak yang lain secara umum. Rasulullah s.a.w pernah bersabda yang maksudnya:
”Rumah yang terbaik adalah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim yang dihormati dan diperlakukan dengan baik. Rumah yang terburuk adalah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim yang dizalimi dan diperlakukan dengan buruk”.
Anak yatim yang mendapat perhatian dan kasih sayang yang cukup daripada mereka yang menjaganya semestinya akan merasa bahagia dan aman. Namun sekiranya ia tidak mendapat apa yang seharusnya ia peroleh, hidupnya akan rosak dan hal ini menjadi lebih parah jika ia jatuh ke pangkuan orang yang tidak bertanggungjawab yang mendidiknya secara salah dan membentuknya menjadi peribadi yang merugikan masyarakat.

Gambar Yang Menyayat Hati
 
Gambar yang menyayat hati ini diambil diri salah sebuah rumah anak yatim, yang menunjukkan seorang anak yatim melukis gambar ibunya di atas lantai dan tidur dipangkuannya, dalam usaha untuk mendapatkan kasih sayang dan belas kasihan seorang ibu.

Sayangilah Anak Yatim
DALAM al-Quran sebanyak 23 kali disebut perkataan ‘yatim’ dan penggunaan kata-kata yatim itu merujuk kepada kemiskinan dan kepapaan. Ertinya mereka yang berada dalam golongan yatim (anak yatim) memerlukan perhatian dan pembelaan daripada masyarakat untuk membolehkan mereka hidup selesa dan sempurna seperti orang lain yang mempunyai penjaga (ayah atau ibu).
Al-Quran secara jelas menegaskan dalam beberapa ayatnya yang menyuruh kita berbuat baik kepada anak yatim. Surah al Baqarah, ayat 220, Allah SWT berfirman bermaksud; “Mereka bertanya kepadamu mengenai anak yatim, katakanlah: Memperbaiki keadaan mereka adalah baik.”
Daripada Abu Ummah diceritakan bahawa Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Barang siapa yang membelai kepala anak yatim kerana Allah SWT, maka baginya kebaikan yang banyak daripada setiap rambut yang diusap. Dan barang siapa yang berbuat baik kepada anak yatim perempuan dan lelaki, maka aku dan dia akan berada di syurga seperti ini, Rasulullah SAW mengisyaratkan merenggangkan antara jari telunjuk dan jari tengahnya.” (Hadis riwayat Ahmad)
Mengulas hadis riwayat Ahmad itu, Al-Hafizah Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata: “Cukuplah sebagai bukti yang menetapkan dekatnya kedudukan Nabi dengan kedudukan orang yang mengasuh anak yatim, kenyataan bahawa antara jari tengah dan jari telunjuk tidak ada jari yang lain.”
M Khalilurrahman Al-Mahfani dalam sebuah bukunya mencatatkan mengenai anak yatim: “Anak yatim adalah satu daripada komponen kehidupan yang harus kita rahmati. Dengan kata lain, kita harus menjadi rahmat bagi mereka, bukan menjadi musibah.”
Rahmat bagi mereka dizahirkan dalam bentuk kepedulian yang nyata, antara lain mengasuh mereka dalam keluarga kita, membantu ekonomi dan pendidikan, menjadi orang tua asuh, serta aktif mengelola rumah asuhan.
Sesungguhnya Islam adalah agama yang sangat menitikberat kesejahteraan umatnya, terutama nasib golongan yang lemah seperti orang miskin, ibu tunggal dan anak yatim. Sehubungan itu, Allah SWT memerintahkan kepada Nabi-Nya dengan firman-Nya dalam surah Ad-Dhuha ayat 9 yang bermaksud: “Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah engkau berlaku sewenang-wenangnya.”
Dalam surah lain, Allah SWT berfirman yang bermaksud: “Dan kerana kesabaran mereka (mengerjakan suruhan Allah dan meninggalkan laranganNya), mereka dibalas oleh Allah dengan Syurga dan (persalinan dari) sutera. ” (Surah Al-Insaan 76:12)
Sesiapa yang berlaku tidak baik atau bersikap zalim terhadap anak yatim pasti akan menerima balasan daripada Allah SWT dan golongan ini dianggap antara satu ciri orang yang mendustakan hari akhirat. Firman Allah SWT bermaksud: “Tahukah kamu orang yang mendustakan hari akhir? Itulah orang yang mengherdik anak yatim dan tidak menganjurkan untuk memberi makan orang miskin.” (Surah Al-Ma’un ayat 1-3)
Jelaslah bahawa pahalanya sangat besar bagi sesiapa yang berbuat baik atau memelihara anak yatim. Dalam sebuah hadis daripada Ibnu Abbas meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Orang yang memelihara anak yatim dalam kalangan umat Muslimin, memberinya makan dan minum, pasti Allah SWT akan masukkan ke dalam syurga, kecuali ia melakukan dosa yang tidak boleh diampun.” (Hadis riwayat Tirmidzi)
Banyak hikmah dan kebaikan apabila anak yatim dalam keluarga dan anak yatim itu dijaga dengan baik. Allah SWT akan memberi rahmat dan kasih sayang-Nya dan keluarga kita akan berasakan ketenangan dan kebahagiaan, tetapi jika anak yatim yang ada di bawah peliharaan atau pun jagaan kita diperlakukan tidak baik, maka perbuatan itu akan menerima balasan daripada Allah.
Daripada Abu Hurairah, Rasulullah bersabda yang bermaksud: “Sebaik-baik rumah di antara orang Islam adalah rumah yang didalamnya ada anak yatim yang diperlakukan dengan sebaik-baiknya dan seburuk-buruk rumah adalah rumah yang di dalamnya ada anak yatim, namun diperlakukan dengan buruk.” (Hadis riwayat Ibnu Majah)
Allah SWT juga berjanji akan memberi pahala dan ganjaran yang setimpal kepada kaum Muslimin yang membantu meringankan beban anak yatim dengan memberi sumbangan wang ringgit (derma atau sedekah). Banyak sedikit sumbangan yang diberikan itu bukan ukurannya, tetapi keikhlasan yang penting. Allah melihat apa yang ada dalam hati.
Allah SWT berfirman dalam al-Quran yang bermaksud: “Katakanlah, sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (sesiapa yang dikehendaki-Nya)’, dan apa saja yang kamu infakkan, maka Allah akan menggantikannya dan Dialah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (Surah Saba ayat 39).
Dalam surah lain Allah SWT berfirman yang bermaksud: “Apa saja yang kamu infakkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. Orang yang berbuat zalim tidak ada seorang penolong pun baginya.” (Surah Al-Baqarah ayat 270)
Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Tidak ada suatu pagi yang dilalui oleh seorang hamba kecuali dua malaikat turun. Satu daripadanya berkata: Ya Allah, berilah ganti orang yang berinfak (dermawan). Malaikat yang satu lagi berkata: Ya Allah, berilah kehancuran bagi orang yang kedekut.” (Hadis riwayat Bukhari, Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah).
Wallahu’alam….


SUMBER
Read More»

Tokoh Kita Hari Ini

    If you would like to receive our RSS updates via email, simply enter your email address below click subscribe.

Discussion

Tags

Blogger template. Proudly Powered by Blogger.
back to top